HUTAN MENTAWAI, MILIKI FLORA DAN FAUNA LANGKA DIDUNIA

HUTAN Mentawai, menurut penelitian World Wildlife Fund (WWF) tahun 1980, sangat unik. Memiliki flora dan fauna yang endemik dan paling langka di dunia, dan merupakan Cagar Biosfer yang keenam di Indonesia. .

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Widget radio streaming ini dipersembahkan oleh : KLIKHOST.com

Senin, 14 Mei 2012

Mentawai Buka Pintu Gerbang Dollar



  • Pembangunan
  • Pelayanan tranfortasi di Kabupaten Kepulauan Mentawai sampai saat ini diakui kurang maksimal untuk mendukung lajunya pembangunan. Sebab Mentawai sebagai daerah yang memiliki wisata standar internasional sudah seharusnya meningkatkan pelayanan transfortasi dari berbagai mancanegara.

    Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, terus meningkatkan pembangunan Bumi Sikerei dari berbagai sektor. Di antaranya, bandar udara (Bandara) ROkot di Sipora Selatan menjadi target utama untuk dijadikan pintu gerbang dalam meningkatkan pelayanan dibidang pariwisata.

    Dijelaskannya, saat ini Pemerintah Daerah Mentawai sudah melakukan pembangunan jalan darat yang menghubungkan antara kecamatan Sipora Utara dan Sipora Selatan. Namun pengerjaan jalan tersebut masih dalam pengerasan. Ditargetkan, tahun 2012 ini jalan trans Mentawai tersebut sudah mulus, sehingga antara Sipora Utara dan Sepora Selatan tidak terputus lagi.

    "Sekarang antara Sipora Utara dengan Sipora Selatan sudah bisa lewat darat meskipun jalannya masih dalam pengerasan. Tapi tahun ini jalan trans Mentawai sudah mulus," janji Yudas kepada reporter Sasaraina.info ketika meninjau Bandara Rokot.

    Saat ini, landasan pacu Bandara Rokot sudah terbentang 800 meter, tapi masih ada peluang ke depannya diperpanjang 1400 meter. Namun masih ada beberapa pembangunan perlu dilengkapi dan diruba untuk memaksimalkan pelayanan di Bandara Rokot.

    "Kita akan bangun talud untuk pantai, sehingga dalam jangka 20 tahun kemudian Bandara Rokot masih layak dipakai. Kemudian ruang tunggu yang berada di tepi pantai akan di pindahkan di seberang landasan pacu penerbangan. Sebab tidak efektif jika penumpang menuju ruang tunggu harus melewati jalur landasan pacu penerbangan. Di samping itu juga akan ditambah satu lagi tempat parkir pesawat," jelas Yudas disampingi Kepala DKP, Edi Sukarni dan Kabag Humas, Dahruzal.

    Menurut Yudas, selama ini setiap daerah saling gencar mengembangkan pariwisata. Dan semua daerah masih banyak mengembangkan pariwisata berkiblat dengan Bali. Termasuk bertekad untuk merebut pasar wisatawan dari Bali.

    "Kita tidak akan merebut pasar uang dari wisatawan yang ada di Bali. Tapi kita akan rebut pasar uang wisatawan dari Riau dan Singapore. Sebab keduanya ini punya uang banyak. Makanya pembangunan Bandara Rokot ini kita utamakan untuk dijadikan pintu gerbang dollar," kata Yudas sambil tertawa optimis.

    Direncanakan, jika setiap Minggu pesawat sudah aktif, maka Pemda Mentawai akan buka jalur untuk Riau dan Singapore. Tujuannya untuk melayani para wisatawan datang ke Mentawai dengan maksimal dan tanpa melelahkan.

    "Kalau penerbangan kita sudah aktif setiap Minggu, maka orang Riau dan Singapore hari Jumat sore bisa datang dan pulang Minggu sore. Tentu kedatangan mereka membawa dollar yang banyak dan akan mengalir ke Mentawai," ujarnya.

    Untuk meningkatkan pelayanan penerbangan tersebut, Pemda Mentawai akan kembali melobi beberapa pesawat yang pernah melayani penerbangan tujuan Mentawa ke Padang. Sebab warga sendiri sangat antusias untuk naik pesawat.

    "Di antara pesawat yang pernah melayani itu Smac, NBA dan Susi Air. Tapi sekarang yang aktif hanya Susi Air degan pelayanan penerbangan seminggu dua kali. Tapi kita akan kembali lobi semua pesawat tersebut untuk kembali melayani penerbangan sementara tujuan Mentawai ke Padang," ujarnya.

    Ditegaskannya, sebagai bukti antusias warga Mentawai naik pesawat, untuk membeli tiket harus dipesan seminggu sebelum pesawat. "Jadi tidak bisa beli tiket pada saat mau berangkat. Ini sudah merupakan bukti nyata tingginya minat warga Mentawai naik pesawat.

    Berdasarkan hasil penilitian dari LIPI, untuk tingkat kelembaban dan ruang hampa di Mentawai tidak mengganggu penerbangan. Begitu juga dengan badai dan kecepatan laju angin masih di atas rata-rata normal.

    "Penelitian dari LIPI sudah membuktikan, bahwa untuk tingkat kelembaban dan kecepatan angin dipermukaan laut masih di atas rata-rata norma. Hal terpenting kita tidak ada ruang hampa, sehingga penerbangan tidak terganggu," jelasnya.

    Nyali Kontraktor Mentawai Lesu



  • Pembangunan
  • Surat edaran gubernur yang menyatakan akan adanya gempa kekuatan besar dengan rentang waktu dekat membuat sebagian penguasaha mengurungkan niat untuk menanamkan sahamnya. Hal ini juga terlihat di Kabupaten Kepulauan Mentawai, sejak isu gempa itu mencuat, kontraktor enggan mengambil proyek di Bumi Sikerei.

    Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumadi menyatakan, tahun 2012 ini ada penurunan terhadap minat kontraktor untuk mengambil proyek di Mentawai. Padahal, mulai tahun 2012 Mentawai terus gencar melakukan pembangunan fisik untuk bangkit dari ketertinggalan.

    "Minat kontraktor untuk mengambil proyek di tahun ini menurun. Bahkan proyek pembangunan jalan Desa Pokai dan Sirilanggai Kecamatan Siberut Utara sepanjang 3,5 belum ada yang mendaftar, baik kontraktor maupun konsultan," jelas Sumadi ketika ditemui reporter Sasaraina.info di ruang kerjanya.

    Menurut Sumadi, kurang minatnya kontraktor mengambil proyek salah satu penyebabnya adanya isu gempa berdasarkan surat edaran gubernur yang sudah diberitakan media massa.

    "Ada pengaruhnya surat edaran gubernur itu. Buktinya minat kontraktor di Mentawai menurun, bahkan beberapa proyek fisik belum ada yang mendaftar. Biasanya semua proyek di Mentawai ada yang mendaftar," ujarnya.

    Berdasarkan hasil penelitian beberapa pakar, bahwa Pantai Barat, khususnya Pulau Siberut Mentawai memiliki energi yang cukup besar, sehingga berpotensi menimbulkan gempa dengan kekuatan besar. Mentawai yang sudah masuk zona merah bencana secara otomatis menjadi penilai semua publik.

    "Saya mendengar sudah ada beberapa pakar menyatakan, lempeng yang memiliki potensi gempa besar itu di Pulau Siberut, Mentawai. Tentu publik mengindikasi surat edaran gubernur itu, bahwa gempanya nanti ada di Mentawai. Itu sebabnya kontraktor kita mulai lemah-lesu mengambil proyek.

    Sembilan KK Menjaga Kekuatan NKRI



  • Hukum

  • Permasalahan perbatasan dan klaim atas wilayah terutama yang memiliki kandungan potensi sumber daya alam mineral dan fosil sangat potensial menjadi pemicu ketegangan antar negara yang saling bertetangga. Krisis energi dan sumberdaya alam yang tengah melanda dunia, memaksa negara-negara tetangga yang berbatasan wilayah Indonesia akan mengeksplorasi dan mengklaim wilayah Indonesia sebagai wilayah mereka.

    Pulau Miau merupakan salah satu pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Mentawai berbatasan dengan perairan laut Hindia. Sampai saat ini, Pulau Miau yang masih dalam kawasan perairan Pulau Siberut tersebut hanya dihuni sembilan kepala keluarga dari warga Kepulauan Nias dan Mentawai sendiri. Pulau dengan luas 40 hektar itu lebih banyak ditumbuhi tanaman kelapa dari pada kayu hutan.

    Dari Tuapejat, Pulau Sipora, sekitar 100 mil dengan jarak tempuh enam jam, reporter sasaraina.info mampu mendatangi Pulau Miau dengan menerjang gelombang laut pantai barat berbatasan samudera Hindia. Tidak berapa lama, beberapa warga menunggu di tepi pantai untuk melihat identitas setiap orang yang singgah di pulau terluar itu.

    Seorang warga dari Kepulauan Nias, Huda (36), sudah tiga tahun berada di Pulau Miau untuk mengambil kelapa dan dijadikan kopra. Rata-rata penghasilan kopra di Pulau Miau itu mencapai 25 ton setiap bulannya. Bukan hanya dia, tapi beberapa warga Desa Taileleu Mentawai juga berbisnis kopra karena sangat menjanjikan.

    Kedatangan Huda bersama istri dan anaknya ke Pulau Miau dengan warga Mentawai disekitarnya juga berdasarkan kontrak kesepahaman dalam mengambil kelapa. Sebab Pulau Miau yang terletak di Pantai Barat itu sangat rawan dengan gelombang badai yang mematikan, sehingga warga Mentawai sebagian besar tidak berminat untuk mengambil kelapa di pulau tersebut.

    Menurut Huda, seminggu sekali warga Taileleu, Mentawai, pulang ke kampungnya setelah kopranya dijual. Sebab hasil penjualan kopra itu untuk dibelanjakan sebagai cadangan makan di Pulau Miau. Sebab di Pulau Miau sendiri tidak ada kedai yang menjual berbagai makanan, semuanya itu harus dibeli di Desa Taileleu, Kecamatan Siberut Barat yang masih bersebelahan dengan pulau Miau sendiri dengan jarak tempuh sekitar satu jam dengan cuaca normal.

    "Kalau orang Mentawai sendiri pulang ke kampungnya paling untuk belanja sebagai cadangan makanan di pulau ini. Kadang-kadang mereka pulang juga karena ada pesta di kampungnya," ujar Huda ketika Sasaraina.info berkunjung ke rumahnya.

    Huda menceritakan, selama tinggal di Pulau Miau belum ada gangguan dari pihak manapun. Sebab yang mereka ketahui, Pulau Miau tidak menjanjikan kehidupan yang mapan, sehingga semua kehidupan berjalan damai dan rukun.

    "
    Saya di pulau ini masih baru tiga tahun dan cerita mereka orang Mentawai yang lebih lama di sini tidak pernah ada kapal negara luar singgah di Pulau Miau ini. Sebab di pulau ini tidak punya keistimewaan, justru rawan dengan keganasan badainya. Semua berjalan dengan kesepian dan jauh dengan akses informasi," tuturnya.

    Sepengetahuan Huda, hanya ada beberapa kapal surfing mewah yang di atasnya dilengkapi dengan landasan helikopter. Namun kapal surfing itu hanya lewat untuk mencari ombak terbaik Mentawai selama beberapa hari.

    "Di sini ada sembilan kepala keluarga dengan jumlah penduduk 32 jiwa. Jadi cuma kami yang menjaga pulau terluar ini dari interpensi provinsi bahkan negara tetangga seperti, Hindia, Australia, dan Pakistan.

    Kesempatan sama disampaikan Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, bahwa sekitar tahun 1960-an, ada beberapa negara luar yang menganggap kawasan pantai barat tersebut milik mereka. Namun ketika sudah ada aktivitas TNI dari anggapan itu hilang bersamaan orang asing itu pun tidak datang lagi.

    Menurut Yudas, tidak ada hambatan bagi negara luar untuk masuk ke Mentawai melalui Pantai Barat Sumatera tersebut. Sebab dalam sisi ketahanan memang diakui sangat lemah, sehingga sangat memudahkan para serdadu masuk tanpa halangan.

    "Pulau Miau ini garis pantai sebelah Utara berbatasan dengan Pakistan, Selatan Australia, dan sebelah Barat Hindia. Jadi kondisi ketahanan di garis pantai barat ini memang sangat lemah dan rawan dengan interpensi atau klaim dengan negara lain," jelas Yudas.

    Saat ini, kata Yudas, keamanan dan ketahanan diwilayah Pantai Barat Sumatera sudah menjadi pemikian bersama, baik kabupaten, provinsi dan pusat. Sebab hal ini bukan hanya keamanan Mentawai saja, melainkan keutuhan NKRI sendiri.

    "Kita sedang merencanakan akan ada Lanal di Mentawai, sehingga sangat membantu ketahanan NKRI untuk perairan laut di Mentawai," katanya.

    Dandim 0913 Kabupaten Kepulauan Mentawai,Letkol Kav. Josafat menjelaskan, lemahnya dalam menjaga ketahanan wilayan NKRI di Pantai Barat Mentawai karena kurang dukungan tranfortasi. Pihaknya sendiri bisa mengunjungi beberapa pulau terluar yang ada di Mentawai tersebut melalui kunjungan bersama bupati dan unsur muspida lainnya.

    "Susah, apalagi kita tidak punya transfortasi sendiri di Mentawai. Jadi kita memantau dengan cara seperti ini melakukan kunjugan kerja bersama bupati dan unsur muspida lainnya. Dan kita sendiri belum ada menempatkan personel di Pulau Miau tersebut," jelasnya.

    Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Mentawai, Edi Sukarni menyatakan, pihaknya sudah memasar mercu suar di setiap pulau terluar yang ada di Mentawai. Apalagi di Pulau Miau, sudah ada fasilitas air bersih dan rencananya juga akan dibangun pos dan listrik.

    "Dari DKP sendiri akan membangun pos penjagaan dan penerangan di Pulau Miau ini. Jadi kita juga akan libatkan secara aktif bagi warga Mentawai yang tinggal di Pulau Miau untuk menjaga NKRI," tuturnya.

    Dikatakannya, di Pulau Miau sudah ada tanda yang diberi oleh Badan Pertanahan Nasional sebagai bukti milik Indonesia. Kemudian dibalik Pulau Miau juga dikibarkan bendera merah putih sebagai tanda wilayah kedaulatan NKRI.

    Nasib Bocah Mentawai Masuk Sulingan Nilam



  • Sosial

  • Meninggal Diterlantarkan Puskesmas

    Hidup di Kabupaten Kepulauan Mentawai memang sangat susah. Pelayanan kesehatan dan pendidikan sangat minim diterima, sehingga memaksa warga untuk hidup dalam ketertinggalan dan terlantar. Di samping itu, jaringan Komunikasi juga belum menjangkau secara menyeluruh. Wajar orang sering mengatakan, kalau Mentawai bagaikan "Nusakambangan II".


    Sebagian besar warga Kabupaten Kepulauan Mentawai yang tinggal di pedusunan mengelola kopra dan nilam untuk dijadikan sebagai tonggak ekonomi keluarga. Jika cadangan kopra dan nilam habis setelah dipanen, warga beralih untuk jadi nelayan, berburu ke hutan. Bagi orang Mentawai, hutan dan laut adalah warisan nenek moyang yang tidak pernah habis untuk mencari makanan.

    Saat ini warga di Kecamatan Pagai Utara, Pagai Selatan mulai panen nilam. Bahkan di antara mereka sudah mulai menyuling nilam untuk dijual kepada beberapa agen.

    Kesibukan menyuling juga dilakukan Tiur (53), Dusun Parakbatu, Kecamatan Pagai Utara, di samping rumahnya sudah mengepul asap dengan bau harum yang menyengat. Istrinya pun tidak ketinggalan menyibukan diri untuk membantunya, sedangkan anaknya bermain tanpa perhatian.

    Mendadak, Tiur dan istrinya dikejutkan dengan jeritan histeris seorang bocah yang memecah suasana siang yang panas itu. Ternyata, anaknya sudah masuk ke drum sulingan nilam yang masih dipanggang api. Dengan sigap, anaknya pun dikeluarkan dari dalam drum berisi air nilam yang masih mendidih.

    "Saya angkat seluruh badan anak kulitnya sudah melepuh. Saya pun langsung mencari bidan untuk minta bantuan obat," katanya dengan wajah muram.

    Tidak berapa lama, seorang bidan, Lasma, datang untuk melihat kondisi bocah malang tersebut. Mirisnya, bidan hanya memberikan obat antibiotik dan salep kepada anak tersebut. Hal ini akibat tidak mendukungnya perobatan dari pos pembantu (postu) di setiap desa yang ada di Mentawai.

    Lasma sendiri kehilangan kendali ketika fasilitas di postunya tidak bisa membantu secara darurat terhadap bocah yang badannya sudah melepuh itu. Bahkan dia sendiri tidak memberikan arahan kepada orang tua bocah malang itu untuk dirujuk ke Kota Padang.

    "Saya bingung dan memang tidak memberikan arahan kepada keluarga korban untuk dirujuk ke rumah sakit yang ada di Padang. Namun besar harapam saya dengan dibawa ke puskesmas bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif," ungkapnya kepada Sasaraina.info.

    Akhirnya, Agel (3), bocah yang nyemplung ke dalam drum nilam itu dibawa ke puskesmas Sikakap untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Ternyata nasib juga belum berpihak, justru puskesmas tersebut malah ditinggal oleh para perawat dan kepala puskesmas selama seminggu lebih. Akibatnya, Agel hanya tidur di puskesmas selama seminggu tanpa perawatan yang layak.

    Kasus tersebut terbongkar ketika Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai, Hendri Dori Satoko sedang memeriksakan kesehatannya di puskesmas, Jumat, (11/5). Selama menjalani pemeriksaan kesehatan, seorang bocah terdengar menagis panjang.

    "Itu anak kenapa nangis terus dari tadi? Sakit apa dia?" tanya Hendri ingin tahu.

    Seorang perawat yang memeriksanya pun menjawab singkat, bahwa anak tersebut hanya sekadar sakit. Tak puas dengan jawab perawat tersebut, usai diperiksa, Hendri langsung menuju kamar di tempat bocah malang itu di rawat.

    "Saya terkejut, itu anak badannya semua melepuh. Katanya masuk ke dalam drum pengolahan nilam yang masih mendidih," kata Hendri.

    Seorang perawat merasa takut, akhirnya dia jujur ketika didesak, bahwa anak tersebut sudah seminggu di puskesmas, tapi hanya sekadar diberi salep saja. Hal ini disebabkan karena semua staf dan perawat di puskesmas sudah seminggu lebih tidak masuk kerja. Bahkan kepala puskesmanya sejak 21 April sampai sekarang juga tidak pernah masuk puskesmas.

    Spontan, Hendri langsung membisikkan kepada Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet di tengah-tengah acara ramah-tamah memberikan wejangan kepada PNS usai pelantikan Camat Sikakap. Mendengar informasi tersebut, Yudas langsung meminta bantuan Wakil Bupati, Rijel Samaloisa untuk melihat kondisi bocah malang itu di puskesmas.

    Sampai di Puskesmas, Rijel semakin geram karena dari 69 personal hanya ada satu perawat yang ada di puskesmas Sikakap. Tanpa membuang waktu, Rijel memerintahkan Camat Sikakap untuk menghadirkan semua staf dan perawat, serta kepal puskesmas untuk datang.

    "Kalian di sini digaji pakai uang negara, maka harus menjadi pelayan setiap masyarakat tanpa membedakan agama dan suku. Yang jelas setiap orang yang tinggal di Mentawai harus dilayani untuk mendapatkan kesehatan. Jadi apa kerja kalian semua di sini? Mana kepala puskesmasnya?" tanya Rijel dengan muka merah dan marah.

    Pertanyaan Rijel langsung dijawab Camat Sikakap, Heppy Nurdiana, bahwa selama ini perawat di puskesmas Sikakap tidak datang hanya di rumah saja. Bahkan sebagian mereka hanya mengasuh anak, tanpa mementingkan pelayanan kesehatan masyarakat. Ironisnya lagi, sejak 21 April, Kepala Puskesmas Sikakap justru tidak pernah ada di tempat.

    "Jujur Pak wabup, keberadaan saya sebagai camat baru di Sikakap ini sebenarnya tidak diterima oleh seluruh perawat dan kepala puskesmas di sini. Mungkin karena saya sering mengkritik mereka karena tidak masuk puskesmas," ujarnya yang masih menggunakan pakain pelantikan camat.

    Semakin geram, Rijel memberikan pertimbangan kepada semua perawat puskesmas, agar mengundurkan diri jika sudah bosan menjadi PNS di Mentawai. Sebab kemalasan masuk puskemas akan berdampak kepada terlantarnya setiap warga Mentawai yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan.

    "Kalau tidak mau atau sudah bosan jadi PNS secepatnya hubungi kami, supaya proses pemberhentiannya lebih cepat," tegas Rijel.

    Mendengar ucapan itu, kepala para perawat langsung menunduk ketakutan. Bahkan ada beberapa perawat yang datang ketika disidang wabup sambil menggendong anaknya.

    "Saya kasih batas waktu, anak ini harus segera dibawa ke Padang paling lambat hari Minggu ini (13/5)," tegas Rijel sambil memberikan santunan uang Rp 1 juta kepada keluarga korban.

    Akhirnya Meninggal

    Kondisi Agel yang terus melemah di pukesmas terus mendapatkan perhatian khusus setelah Wakil Bupti Kepulauan Mentawai memberikan batas waktu rujuk ke Padang. Waktu tinggal sehari lagi keberangkatan Agel dirujuk ke Padang, ternyata pada Sabtu malam, tepat pukul 20.00 Wib, Agel meninggal karena tidak tahan dengan panasnya luka bakar di seluruh tubuhnya.

    Mendengar korban meninggal, Wakil Bupati semakin geram dan merasa bertanggungjawab terhadap warganya yang diperlakukan tidak wajar terhadap perawat yang ada di Puskesmas Sikakap.

    "Pertama kita akan reformasii birokrasi secara total ditubuh dinas kesehatan. Yang pasti, Kepala Puskesmas tersebut akan kita copot jabatannya dan kemungkinan besar sanksinya non job. Sebab dia sudah lalai dalam melakasanakan tugas sebagai pelayan masayrakat.

    Penderita Tumor Ganas di Pantai Barat



    Mimpi Buruk Berobat ke Malaysia


  • Sosial

  • Dunia seperti tidak adil memberikan kehidupan bagi orang miskin. Kenikmatan mendapatkan pendidikan dan kesehatan tak pernah ada yang menjamin secara pasti. Pelesetan bahasa pun serirng dikampanyekan, "oran miskin tidak boleh sakit dan sekolah". Padahal bangsa ini merdeka dibangun dengan orang miskin yang memiliki tekad kuat.

    Laporan, Iswanto. JA - Mentawai
    Pagi cerah dengan perairan laut yang tenang memuluskan rencana rombongan Bupati Kepulauan Mentawai untuk menuju Pulau Siberut, Kecamatan Siberut Selatan dalam agenda peringatah Hari Pendidikan nasional (Hardiknas). Sekitar satu setengah jam, speedboad pun mampu mengarungi perjalanan laut sepanjang kurang lebih 40 mil.

    Peringatan hardikas yang berjalan khidmat dan singkat itu memberikan makna bagi generasi Bumi Sikerei untuk terus bersekolah agar Mentawai tidak selalu tertinggal. Menjelang sore, beberapa rombongan bupati pun melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Padang dengan agenda yang berbeda.

    Di tenga-tengah kesibukkan melepas rombongan bupati pergi, mendadak Camat Siberut Barat Daya, Pir Paulus berbisik kepada Padang Ekspres untuk tetap tinggal dengan maksud tertentu. Diyakini, hanya dengan bantuan wartawan, salah seorang warganya akan mendapatkan pertolongan dari penyakit tumor ganas yang bakal merenggut nyawa warganya.

    "Bisa singgah sebentar di kecamatan saya Pak. Sebab warga saya sedang sakit dan butuh bantuan ekspos agar mendapatkan bantuan dana dari berbagai pihak," harap Pir Paulus yang baru dua bulan dilantik sebagai camat.

    Dari Kecamatan Siberut Selatan, Padang Eksrpes kembali melanjutkan perjalanan laut menuju Kecamatan Siberut Barat Daya untuk mellihat warganya yang hidupnya sedang terancam serangan tumor ganas. Hampir dua jam perjalanan laut ditempuh menuju Dusun Pei-pei Kecamatan Siberut Barat Daya. Kondisi sudah sore dan gelombang pun mulai mengganas, akhirnya perjalanan ditunda untuk bermalam di Dusun Pei-Pei tersebut.

    "Dusun Pei-Pei, Desa Taileleu ini ibukota Kecamatan Siberut Barat Daya. Karena gelombang laut sudah rawan, kita bermalam di sini saja. Terpenting niat baik kita tidak tertunda. Semua penginapan dan akomodasi saya siap tanggung," kata Pir Paulus

    Menjelang pagi, Jum'at (4/5), perjalanan pun dilanjutkan menuju Dusun Maonai, Desa Taileleu dengan waktu sekitar satu jam. Perjalanan panjang dan melelahkan itu sedikitpun tidak menyurutkan nyali meski speedboat selalu hadang gelombang tinggi. Basah kuyup dan kedinginan dalam perjalanan juga tidak bisa dihindari lagi.

    Sampai tujuan, Kepala Desa Taileleu dan beberapa Kepala Dusun serta beberapa tokoh masyarakat menyambut hangat. Tanpa membuang waktu, perjalanan terus dilanjutkan dengan jalan kaki sepanjang tiga kilometer menuju rumah warga yang terserang tumor ganas.

    Rumah reot berdinding papan dan beratap daun nipa itu menjadi tempat tinggal bagi keluarga Paulus (32) untuk menanti harapan sekaligus menunggu maut. Rumah dengan desain asli Mentawai itu sampai sekarang belum memberikan kebahagian dalam hidupnya.

    Dengan bahasa Mentawai, Paulus menceritakan, bahwa penyakit tumor ganas yang dideritanya sejak tahun 2011. Rasa sakit yang tidak tertahankan selalu mengganggu aktivitasnya untuk mencari nafkah bagi istri dan anaknya. Ternyata tumor ganas yang bersarang dilehernya dan nampak menonjol keluar mulai melumpuhkan tenaganya.

    "Rasa sakit itu hilang timbul. Setelah mengeluarkan nanah, baru terpikir untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Karena biaya belum ada, jadi harus mencari uang dulu," katanya sambil memangku anaknya yang masih kecil.

    Setelah beberapa Minggu, akhirnya uang pun terkumpul dari sumbangan masyarakat setempat dan bantuan Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet. Total dana mencapai Rp60 juta. Dana sebesar itu pun dibawa ke Kota Padang untuk biaya operasi disalah satu rumah sakit ternama dengan harapan bisa disembuhkan.

    "Setelah diperiksa, ternyata ada tiga titik tumor ganas yang bersarang di bagian leher dan di belakang tengkorak kepala. Jadi tumor yang diangkat hanya dibagian leher, sedangkan di balik tengkorak kepala tidak bisa," tuturnya di dampingi Markus, sebagai penerjemah bahasa Mentawai.

    Sebagaimana informasikan dari dokter, bahwa rumah sakitnya tidak sanggup melakukan operasi tumor ganas yang bersarang di balik tengkorak kepalanya. Sebab kalau dipaksakan bisa mengganggu urat syaraf lainnya, seperti mata dan telinga bisa fatal. Pihak dokter yang merawatnya juga sudah berkoordinas dengan rumah sakit yang ada di Jakarta, namun jawabannya juga tidak sanggup.

    "Si Dokter bilang, harus dioperasi di rumah sakit Malaysia. Sebab di Indonesia peralatannya tidak selengkap yang ada di Malaysia. Jelasnya rumah sakit Indonesia sudah tidak sanggup lagi untuk melakukan operasi tumor ganas saya," katanya dengan menundukkan kepala dan pasrah.

    Pupus sudah harapan Paulus ketika dokter menyuruhnya untuk operasi ke Malaysia dengan dana Rp500 juta. Untuk mengumpulkan dana operasi ke Kota Padang saja dirinya sudah tidak sanggup, apalagi ke luar negeri.

    "Pergi operasi ke Malaysia sama saja mimpi buruk bagi saya. Uang sebesar itu mustahil bisa saya dapatkan, kecuali ada orang kaya yang mau peduli dengan saya. Kalaupun saya sehat, sampai mati juga tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak itu," ujarnya dengan pesimis.

    Hampir satu tahun Paulus tidak bisa bekerja. Selama ini ia hanya merawat ke empat anaknya di rumah, sedangkan yang mencari nafkah digantikan dengan isrtinya. Kehidupannya yang semakin tragis itu membuat Paulus tertekan dan putus asa dalam menjalani hidup. Diyakininya, jika tidak ada orang yang membantu biaya, cepat atau lambat maut akan menjemputnya.

    "Kalau berjalan sedikit jauh rasa sakit itu datang. Jadi saya hanya merawat anak di rumah. Anak saya empat, dua orang masih balita dan dua orang lagi sudah SD. Sekolahnya pun sekarang terancam putus karena tidak ada biayanya lagi," katanya.

    Hampir satu tahun, istrinya terus bekerja mulai dari pagi sampai petang. Pekerjaan sepanjang hari itu pun tidak pernah menghasilkan uang, tapi hanya berupa makanan yang diambil dari ladang. Kondisi kehidupan yang sudah terbalik itu pun dijalani istrinya, Karolina (29) tanpa mengeluh dan kecewa dengan suaminya. Baginya semua itu hanya takdir buruk yang selalu berpihak bagi keluarganya.


    "Istri saya bekerja tidak menghasilkan uang, tapi berupa makanan yang diambil dari ladang. Nanti istri pulang dari ladang membawa sagu, pisang, ubi, keladi, kemudian sampai rumah diolah untuk menjadi makanan sehari-hari bagi keluarga ," ujarnya memelas sambil memeluk kedua anaknya.

    Mirisnya lagi, ternyata rumah reot yang ditinggalinya itu milik orang lain. Di dalam rumah, terlihat periok, kuali yang sudah menghitam, serta beberapa piring, sendok dan gelas plastik. Sungguh memprihatinkan kehidupan Paulus yang dirundung ancaman penyakit dan tidak pernah dibayangkan.

    "Anak-anak makannya hanya hasil dari ladang, tidak ada makanan lainnya lagi. Jika umur ini tidak panjang, saya mengharap anak-anak kelak menjadi pahlawan untuk ibunya yang tertindas dengan kehidupan," pesannya sambil menetskan air mata.

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites